Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Berbagai suku, ras, agama dan kebudayaan merupakan kekayaan nusantara yang seharusnya dirawat dan dilestarikan. Namun yang menjadi tantangan di tengah masyarakat majemuk, sering sekali identitas keyakinan tertentu dibenturkan dengan keyakinan-keyakinan lainnya. Misalnya agama dibenturkan dengan nilai-nilai budaya lokal tertentu sehingga terjadi gesekan-gesekan yang berpotensi mengakibatkan perpecahan. Sementara di sisi lain, setiap agama tentu mengidam-idamkan sebuah realitas yang damai, adil dan sejahtera. Hal ini seperti paradoks yang nyata di tengah masyarakat kita pada umumnya. Inilah yang menjadi tantangan agama-agama di tengah kemajemukan, secara khusus kekristenan itu sendiri.

Perlu adanya kesadaran terhadap fenomena yang terjadi dalam realitas kemajemukan. Moderasi beragama merupakan salah satu “jalan tengah” yang ditawarkan untuk meminimalkan gesekan-gesekan yang terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap keyakinan tertentu dan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara. Moderasi beragama bukan berarti “liberal,” tetapi justru mengacu pada sikap yang “seimbang.” Moderasi (Latin: Moderatio) berarti “ke-sedang-an,” “tidak kelebihan” juga “tidak kekurangan,” atau dalam KBBI diterjemahkan secara sederhana: “pengurangan kekerasan” atau “menghindari keekstriman.” Jadi jelas bahwa moderasi beragama lebih mengedepankan keseimbangan dan tidak memandang sesuatu secara berlebihan.

Untuk menjadi Kristen yang benar tidak harus menyalahkan keyakinan lainnya. Demikianlah realitas yang seharusnya memberi harapan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Diterbitkan: 2019-03-20