Jurnal Teologi Anugerah
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta
<p>Teologi Anugerah adalah jurnal teologi yang diterbitkan secara tematis.Diharapkan jurnal ini menjadi medium tukar pikiran informasi dan riset ilmiah antara pakar dan pemerhati masalah-masalah Teologi di Indonesia</p>Sekolah Tinggi Teologi Gereja Methodist Indonesia Bandar Baruid-IDJurnal Teologi Anugerah2085-532XPENTINGNYA SERVANT LEADERSHIP DIDUKUNG OLEH TEKNOLOGI DALAM MENINGKATKAN KUALITAS MISI PELAYANAN GEREJA
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4907
<p>Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya<em> Servant Leadership</em> (Kepemimpinan yang menghamba) didukung oleh Teknologi dalam meningkatkan kualitas misi pelayanan gereja. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kualitatif. Dari hasil yang diperoleh diketahui bahwa servant leadership penting didukung oleh teknologi dalam meningkatkan kualitas misi pelayanan gereja seperti: Handphone, youtube, watsapp, facebook, instagram, twitter, live streaming, tik-tok. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa: Servant leadership adalah merupakan sebuah metode misi dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan gereja. Kemajuan teknologi dapat mendukung kualitas misi pelayanan gereja dengan memanfaatkan konten-konten seperti: Handphone, youtube, watsapp, facebook, instagram, twitter, live streaming, tik-tok. Servant leadership penting didujung oleh teknologi dalam rangka meningkatkan kualitas dan efektivitas misi pelayanan gereja.</p>Mangatas ParhusipRayana Ripka SitinjakRahel Anggreni Lirosi SiahaanListia Imelda GintingWidia Ramadani
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-01141110MEGALAHKAN KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN MENURUT ROMA 12:7
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4909
<p>Mengingat banyaknya perseturuan sesama orang percaya yang sering balas membalas perbuatan terhadap sesama orang percaya. Jemaat di Roma ternyata menghidupi praktek itu. Adapun yang menjadi tujuan artikel adalah untuk memberikan makna teologis melalui studi historis dan eksegetis terhadap perbuatan yang balas membalas terutama dalamhal kejahatan. Artikel ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif melalui berbagai perpustakan. Hasil penelitian adalah Perintah non-pembalasan dan kebaikan proaktif adalah cara utama orang Kristen bersaksi tentang Kristus kepada dunia ("lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!"). Perintah ini menunjukkan bahwa etika Kristen didasarkan pada pengakuan hak dan wewenang Allah atas penghakiman dan pembalasan.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1"></a></p>Selamat Karo-Karo
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-011411118MENGINJILI TANPA MENGHILANGKAN BUDAYA: TEOLOGI KASIH DAN HARMONI DALAM DALIHAN NA TOLU
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4916
<p>Artikel ini membahas misi gereja dan inkulturasi Injil melalui falsafah Batak Toba, Dalihan Na Tolu. Istilah misi berasal dari Latin mittere dan terkait perintah Yesus (Matius 28:19–20; Yohanes 20:21; Kisah 1:8) untuk memberitakan Injil kepada semua manusia. Inkulturasi dipahami sebagai proses memasukkan Injil ke dalam kultur lokal tanpa menghilangkan esensi iman, sehingga dialog antara iman dan budaya menjadi penting. Dalihan Na Tolu—somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru—merepresentasikan penghormatan, persaudaraan, dan pelayanan yang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, persatuan, dan pelayanan. Artikel menelaah acuan teologis, termasuk refleksi terhadap Tritunggal, prinsip Paulus (1 Korintus 9:22), serta pandangan Jacques Dupuis dan ensiklik Redemptoris Missio yang menekankan penghormatan terhadap identitas budaya dalam tugas misi. Praktik inkulturasi dijabarkan melalui penghormatan kepada hula-hula, kerjasama dongan tubu, dan pelayanan boru, yang memungkinkan pelestarian identitas budaya sekaligus penerimaan Injil. Tantangan yang dihadapi meliputi modernisasi, urbanisasi, dan risiko sinkretisme. Untuk mempertahankan relevansi, gereja disarankan mengimplementasikan pendidikan kontekstual, adaptasi tradisi dalam ibadah, dan pemanfaatan teknologi. Kesimpulannya, Dalihan Na Tolu dapat menjadi alat efektif bagi misi inkulturasi bila seimbang antara penghormatan budaya dan kemurnian doktrin. Pendekatan dialogis ini menuntut pelatihan misionaris, keterlibatan komunitas lokal, dan evaluasi berkelanjutan agar praktik inkulturasi menghasilkan kehidupan rohani yang autentik dan berkelanjutan. Serta menghormati nilai-nilai generasi mendatang bersama-sama.</p>Frengky Marpaung
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-011411925SUATU STUDY TENTANG ISLAM NUSANTARA DAN RELEVANSINYA TERHADAP KEMAJEMUKAN DI INDONESIA
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4917
<p><strong>Islam Nusantara</strong> merupakan pendekatan keislaman yang lahir dari proses panjang melalui interaksi antara ajaran Islam dan kebudayaan lokal di Indonesia. Konsep ini menekankan penyebaran Islam yang damai, toleran, dan kontekstual tanpa menghilangkan nilai universalnya. Islam Nusantara mengedepankan moderasi, penghormatan terhadap tradisi, serta penguatan harmoni sosial dalam masyarakat majemuk. Melalui peran para ulama dan wali, Islam diterima luas karena bersinergi dengan adat dan kearifan lokal. Dalam era globalisasi, Islam Nusantara menjadi model keberagamaan yang relevan untuk menghadapi radikalisme dan krisis identitas. Sebagai wajah Islam yang ramah dan inklusif, ia mencerminkan kemampuan Islam untuk berdialog dengan budaya tanpa kehilangan esensi ajarannya. Dengan demikian, Islam Nusantara bukan bentuk Islam baru, melainkan cara khas umat Islam Indonesia dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara damai dan kontekstual.</p>Jonsen SembiringDesi Natalia BerutuLina Rahmawati ManikThessa Veronika SimanjuntakMangatas Parhusip
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-011412633KARAKTER SEORANG METHODIST
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4918
<p>Bangunan bertahan lama karena bertumpu pada fondasi yang kokoh. Tanpa fondasi yang baik, bangunan mungkin bertahan untuk sementara waktu, tetapi tidak dapat bertahan lama. Demikian pula, John Wesley memahami bahwa Methodistme dapat dimulai dan tetap eksis ketika dibangun di atas fondasi yang baik. John Wesley didalam menjelaskan tentang karakter seseorang yang disebut Methodist, ia menjelaskan ciri-ciri fondasi yang baik. Ia menggambarkannya dalam istilah "tanda pembeda"—fondasi yang akan membangun seseorang atau kelompok Methodist pada pijakan yang benar dan menopangnya dari masa ke masa. Wesley tidak memahami tanda-tanda ini dalam arti terisolasi atau sektarian, melainkan sebagai kehidupan pemuridan yang dijalani dalam kaitannya dengan prinsip dan praktik Alkitab yang telah diikuti oleh semua orang Kristen sejak zaman Yesus. Sebagai seorang pembimbing rohani yang bijaksana, ia tahu bahwa Methodistme, seperti gerakan lainnya, tidak dapat terus bertahan jika itu hanya ungkapan pengalaman singkat dengan Tuhan. Betapapun tulusnya pengalaman tersebut, faktor-faktor lain harus ada agar seseorang atau kelompok dapat tetap hidup bagi Tuhan. Jadi, dalam Karakter Seorang Methodist, Wesley memberikan fondasi yang kokoh bagi gerakan Methodist awal khususnya, dan fondasi yang penting bagi setiap pengikut Kristus. John Wesley sebagi <em>the Founding Father </em>Methodist berkenaan dengan apa yang seharusnya yang akan dipahami seseorang yang disebut Methodist tentang kepercayaan, tentang apa yang diajarkan, dan lakukan, maka Wesley menulis dokumen dasar yang disebut Karakter Seorang Methodist, untuk memberikan kekuatan yang menopang bagi Methodistme kelak. Dokumen aslinya tetap menjadi anugerah bagi seseorang yang disebut Methodist hingga saat ini. Di dalamnya, Wesley memberi lima tanda untuk meneguhkan identitas seorang yang disebut Methodist (orang Kristen) sebagai murid dan pengikut Kristus yang sejati dan berbuah yaitu:1. Seorang Methodist Mengasihi Allah; 2. Seorang Methodist Bersukacita dalam Tuhan; 3. Seorang Methodist Mengucap Syukur; 4. Seorang Methodist Berdoa Terus-menerus; dan 5. Seorang Methodist Mengasihi Sesama. Tulisan ini dibuat untuk memberi seseorang yang disebut Methodist (tentu juga bagi semua orang Kristen) kesempatan merenungkan setiap karakteristik ini dan menerapkannya dalam kehidupan nyata</p>Manimpan Hutasoit
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-011413443PERUNDUNGAN KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN DAN SIKAP NEGARA TERHADAP PELAKU DAN KORBANYA
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4919
<p>Penelitian tentang perundungan di lingkungan sekolah sudah banyak dilakukan oleh banyak peneliti sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ciri-ciri korban perundungan pada usia anak,remaja dan mahasiswa dan berbagai upaya mengatasi perundungan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan penelitian lapangan. Disini penulis mau menyoroti dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat siswa menimba ilmu,pembentukan karakter,pribadi justru di tempat ini perundungan sering terjadi. Perundungan adalah masalah yang selalu terjadi di tengah dunia Pendidikan di Indonesia. Perundungan memakan korban jiwa,sehingga meninggalkan duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Walaupun hal ini selalu terjadi tetapi pemerintah tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bagaimana kita memutus mata rantai dari perundungan ini,itulah yang harus kita lakukan. Agar tidak ada lagi korban-korban dari perundungan ini.</p>Hasiholan Marulitua
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-011414449KERAJAAN ALLAH: ANTARA REALITAS KINI DAN KEPENUHAN ESKATOLOGIS
https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/4920
<p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;">Tulisan ini mengulas secara mendalam tentang konsep Kerajaan Allah dalam kekristenan sebagai inti dari pewartaan Yesus Kristus. Kerajaan Allah bukan sekadar wilayah fisik, tetapi merupakan pemerintahan Allah yang hadir di tengah-tengah manusia melalui kasih, keadilan, dan kebenaran. Melalui ajaran dan perumpamaan Yesus, Kerajaan ini dinyatakan sebagai realitas yang sudah hadir namun juga mengandung dimensi eskatologis yang akan digenapi kelak. Kajian ini mencakup analisis teologis, spiritual, sosial, dan moral terkait konsep Kerajaan Allah sebagaimana diungkapkan dalam tradisi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta menyoroti panggilan umat Kristen untuk menghayati identitas mereka sebagai warga Kerajaan Allah yang berperan dalam mewujudkan transformasi dan pembaruan dalam kehidupan dunia. Artikel ini menegaskan bahwa Kerajaan Allah adalah panggilan hidup yang nyata bagi setiap orang percaya, sekaligus pengharapan akan pemulihan sempurna di masa depan. </span></p>Pheter SimangunsongRencan Carisma Marbun
Hak Cipta (c) 2025 Jurnal Teologi Anugerah
2025-07-012025-07-011415055