https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/issue/feed Jurnal Teologi Anugerah 2026-07-24T22:58:31+07:00 Manimpan Hutasoit sttgmibandarbaru@methodist.ac.id Open Journal Systems <p>Teologi Anugerah adalah jurnal teologi yang diterbitkan secara tematis.Diharapkan jurnal ini menjadi medium tukar pikiran informasi dan riset ilmiah antara pakar dan pemerhati masalah-masalah Teologi di Indonesia</p> https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6155 DARI FORMASI INTELEKTUAL KE TRANSFORMASI SOSIAL MENURUT ROMA 12:2 2026-07-24T22:11:06+07:00 Selamat Karo-karo selamatkaro@gmail.com <p>Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara formasi intelektual dan transformasi sosial berdasarkan analisis eksegetis Roma 12:2. Di tengah arus globalisasi yang memaksakan pola pikir materialistis dan sekuler, orang percaya dipanggil untuk melakukan resistensi melalui metamorfosis akal budi (<em>nous</em>) daripada menyesuaikan diri dengan skema dunia. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dan analisis eksegetis untuk merumuskan bagaimana pembaruan akal budi berfungsi sebagai fondasi bagi pembentukan agen perubahan yang alkitabiah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi sosial yang efektif berakar pada kemampuan diskresi (<em>δοκιμάζειν</em>) untuk membedakan kehendak Allah di tengah kompleksitas global. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendidikan teologi yang integratif harus mampu mengubah pembelajaran kognitif menjadi aksi nyata yang berdampak pada keadilan, etika, dan kesejahteraan sosial di tingkat lokal maupun global.</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6156 RESTORASI NIR-ETIK LINGKUNGAN SEBAGAI MORALITAS KRISTIANI 2026-07-24T22:18:12+07:00 Brian Aston Gea brianastongea@gmail.com <p>Krisis ekologis global yang semakin nyata menuntut refleksi teologis mendalam atas perilaku manusia yang eksploitatif terhadap ciptaan. John Hart menegaskan bahwa umat manusia telah melangkah jauh menuju kepunahan akibat kerusakan lingkungan, sehingga literasi ekologis bukan lagi sebatas wacana konseptual, melainkan fakta yang diakui hampir seluruh ahli. Dalam perspektif teologi Kristen, kondisi lingkungan sebagai ciptaan Allah menjadi pusat diskusi iman yang menuntun manusia untuk memikul tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Kritik Lynn White Jr terhadap antroposentrisme dalam pengajaran Kristen memperlihatkan akar perilaku nir-etik terhadap alam, namun mandat Allah dalam Kejadian 1:26-28 dan Amanat Agung menegaskan peran manusia sebagai imago Dei untuk memelihara ciptaan, bukan mendominasi. Gereja sebagai komunitas iman memiliki peran strategis dalam membentuk moralitas ekologis melalui pendidikan, liturgi, dan kolaborasi dengan komponen pentahelix (pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media). Restorasi nir-etik lingkungan diwujudkan melalui langkah konkret seperti reboisasi, daur ulang, pemanfaatan kembali, kerja sama kolektif, dan penghematan energi, yang sekaligus menjadi gerakan spiritual dan sosial. Paradigma ecosophy menegaskan bahwa manusia bukan pusat kehidupan, melainkan bagian dari ciptaan yang berelasi dengan Allah sebagai pusat kehidupan. Dengan demikian, keterlibatan Gereja dalam membangun moralitas ekologis umat merupakan langkah fundamental untuk mencegah penderitaan global dan mewujudkan persekutuan harmonis antara manusia, alam, dan Allah.</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6157 DARI FORMASI INTELEKTUAL MENUJU TRANSFORMASI SOSIAL 2026-07-24T22:23:24+07:00 Hasiholan Marulitua harahaphasiholann@gmail.com <p style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt;">Pendidikan teologi merupakan proses pembinaan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan teologis, tetapi juga pada pembentukan karakter, spiritualitas, serta kualitas hidup yang mencerminkan nilai-nilai kekristenan. Melalui proses tersebut, mahasiswa dipersiapkan menjadi pelayan Tuhan yang memiliki integritas, kedewasaan iman, dan kemampuan memberikan kontribusi positif bagi gereja maupun masyarakat. Artikel ini bertujuan menganalisis makna transformasi kehidupan berdasarkan Roma 12:2 dalam kaitannya dengan pembentukan karakter mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMI Bandar Baru serta relevansinya dalam menghadapi dinamika Era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kepustakaan (library research), dengan memanfaatkan sumber-sumber Alkitab, literatur teologi, dan berbagai publikasi ilmiah yang relevan sebagai dasar analisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembaruan budi sebagaimana diajarkan dalam Roma 12:2 menjadi fondasi utama bagi terjadinya perubahan perilaku, pola pikir, dan tanggung jawab pelayanan seorang pelayan Tuhan. Transformasi tersebut diwujudkan melalui kehidupan yang mengedepankan kasih, kejujuran, integritas, kepedulian sosial, serta kesetiaan terhadap firman Tuhan. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang menjadi ciri Era Society 5.0, lulusan pendidikan teologi dituntut mampu mengembangkan pelayanan yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat tanpa mengurangi komitmen terhadap prinsip-prinsip iman Kristen. Dengan demikian, pendidikan teologi di STT GMI Bandar Baru diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menunjukkan kematangan spiritual, karakter Kristus, kemampuan kepemimpinan yang melayani, serta kesiapan menjadi agen transformasi yang membawa dampak positif bagi gereja dan masyarakat.</span></p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6158 DARI TRANSFORMASI INTELEKTUAL KE TRANSFORMASI SOSIAL DASAR BIBLIKA: ROMA 12:1-2 2026-07-24T22:27:57+07:00 Heryanto ps.heryanto@gmail.com <p>Perkembangan Society 5.0 dan kecerdasan buatan telah memperluas akses terhadap informasi, tetapi tidak selalu diikuti pertumbuhan hikmat, integritas moral, dan kedewasaan spiritual. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara penguasaan pengetahuan teologis dengan penerapan iman dalam kepemimpinan, pelayanan, dan tanggung jawab sosial. Kajian ini bertujuan menganalisis peran pendidikan teologi dalam mengintegrasikan transformasi intelektual, spiritual-moral, dan sosial guna membentuk pemimpin Kristen yang berkarakter Kristus, berintegritas, berjiwa melayani, serta mampu menghadirkan perubahan nyata pada era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan dan analisis teologis terhadap Roma 12:1–2 serta berbagai sumber yang berkaitan dengan pendidikan Kristen, kepemimpinan hamba, pembentukan karakter, dan transformasi sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi intelektual tidak cukup dipahami sebagai peningkatan kapasitas akademik, tetapi harus menghasilkan pembaruan budi yang kritis, reflektif, kontekstual, dan berpusat pada Kristus. Pembaruan tersebut perlu disertai transformasi spiritual dan moral yang diwujudkan melalui kedisiplinan rohani, integritas, kerendahan hati, keteladanan, dan orientasi pelayanan. Transformasi intelektual dan spiritual selanjutnya harus menghasilkan transformasi sosial berupa keberpihakan terhadap keadilan, penguatan solidaritas, pembangunan perdamaian, pemberdayaan masyarakat, serta penggunaan teknologi digital secara etis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan teologi perlu mengembangkan proses pembelajaran yang holistik dan integratif agar menghasilkan pemimpin Kristen yang tidak hanya unggul secara akademik dan teologis, tetapi juga matang secara rohani, kokoh secara moral, peka terhadap penderitaan sesama, serta mampu menjadi agen transformasi bagi gereja dan masyarakat.</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6159 MISI KONTEKSTUAL GEREJA SEBAGAI SARANA TRANSFORMASI PEMBELAJARAN MENUJU AGEN PERUBAHAN GLOBAL YANG ALKITABIAH DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL 2026-07-24T22:32:56+07:00 Mangatas Parhusip mangataspdt@gmail.com Dea Sari dea44433@gmail.com Septa Yosua Hutagalung yosuasepta@gmail.com <p>Keberagaman budaya, etnis, bahasa, tradisi, dan pandangan keagamaan dalam masyarakat multikultural menjadi tantangan penting bagi gereja dalam melaksanakan panggilan misinya secara relevan dan kontekstual. Perubahan sosial yang dipengaruhi oleh globalisasi dan perkembangan teknologi menuntut gereja untuk menghadirkan bentuk ibadah yang tidak hanya bersifat liturgis, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat modern. Dalam konteks tersebut, misi kontekstual dipahami sebagai pendekatan strategis yang menghubungkan nilai-nilai Injil dengan realitas kehidupan masyarakat yang plural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran misi kontekstual sebagai strategi ibadah gereja dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat multikultural tanpa mengabaikan dasar-dasar teologis Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan menelaah berbagai literatur mengenai teologi misi, ibadah kontekstual, dan masyarakat multikultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan misi kontekstual mampu menciptakan ibadah yang lebih komunikatif, inklusif, dan partisipatif melalui pemanfaatan unsur budaya lokal serta pendekatan dialogis yang menghargai keberagaman. Selain memperkuat spiritualitas jemaat, ibadah kontekstual juga berkontribusi dalam menanamkan nilai kasih, toleransi, dan perdamaian. Dengan demikian, gereja dapat berperan sebagai agen rekonsiliasi dan transformasi sosial di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6160 FORMASI INTELEKTUAL DAN TRANSFORMASI SOSIAL DALAM MENGHADIRKAN PERUBAHAN KEHIDUPAN YANG NYATA DI TENGAH KONTEKS DUNIA GLOBAL 2026-07-24T22:36:55+07:00 Manimpan Hutasoit manimpanhutasoit12a@gmail.com <p>Artikel ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara formasi intelektual dan transformasi sosial dalam konteks global dengan berlandaskan Roma 12:2 serta perspektif teologi Wesleyan. Di tengah arus globalisasi yang menghadirkan tantangan berupa relativisme, individualisme, dan krisis nilai dan ekologis, pembaruan budi menjadi elemen kunci dalam membentuk respons iman yang relevan dan transformatif. Pembaharuan budi dalam perspektif Wesleyan bukan hanya perubahan pola pikir, tetapi juga perubahan orientasi hidup: dari berpusat pada diri menjadi berpusat pada Allah dan sesama, dan semua mahluk. Metode yang digunakan adalah studi literatur teologis dengan pendekatan reflektif-konstruktif. &nbsp;Hasil kajian menunjukkan bahwa formasi intelektual dalam iman Kristen tidak dapat dipisahkan dari pembaruan spiritual yang dikerjakan oleh Roh Kudus, serta harus bermuara pada tindakan sosial yang konkret. Dalam tradisi Wesleyan, sebagaimana ditegaskan oleh John Wesley melalui konsep “social holiness,” iman Kristen selalu memiliki dimensi sosial yang nyata. Oleh karena itu, transformasi sosial bukanlah aspek tambahan, melainkan konsekuensi inheren dari pembaruan budi. Artikel ini menegaskan bahwa gereja dan lembaga pendidikan teologi memiliki peran strategis dalam membentuk intelektualitas yang tidak hanya kritis, tetapi juga transformatif, sehingga mampu menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam dunia global.</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/jta/article/view/6161 HUBUNGAN ANTAR AGAMA DI DAERAH PERKOTAAN YANG MULTI KULTURAL 2026-07-24T22:41:20+07:00 Marhasil Hutasoit marhasil.hutasoit@gmail.com <p>Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika hubungan antar agama di daerah perkotaan yang memiliki keragaman agama dan budaya. Fokus utama dari penelitian ini adalah bagaimana berbagai komunitas agama saling berinteraksi, berkolaborasi, dan kadang-kadang bertentangan dalam lingkungan perkotaan, dengan menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, artikel ini mengkaji peran pemimpin agama dan organisasi komunitas dalam membangun perdamaian dan pemahaman antar kelompok agama yang berbeda. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dialog antar agama merupakan elemen kunci dalam mengelola keragaman agama dan mengurangi konflik di daerah perkotaan yang multicultural.</p> 2026-07-10T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2026 Jurnal Teologi Anugerah