DARI FORMASI INTELEKTUAL MENUJU TRANSFORMASI SOSIAL
Transformasi dari Proses Pembelajaran Menuju Agen Perubahan yang Alkitabiah dalam Konteks Global efleksi Teologis atas Roma 12:2
Kata Kunci:
pendidikan teologi, transformasi kehidupan, Roma 12:2, pelayan Tuhan, Society 5.0.Abstrak
Pendidikan teologi merupakan proses pembinaan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan teologis, tetapi juga pada pembentukan karakter, spiritualitas, serta kualitas hidup yang mencerminkan nilai-nilai kekristenan. Melalui proses tersebut, mahasiswa dipersiapkan menjadi pelayan Tuhan yang memiliki integritas, kedewasaan iman, dan kemampuan memberikan kontribusi positif bagi gereja maupun masyarakat. Artikel ini bertujuan menganalisis makna transformasi kehidupan berdasarkan Roma 12:2 dalam kaitannya dengan pembentukan karakter mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMI Bandar Baru serta relevansinya dalam menghadapi dinamika Era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kepustakaan (library research), dengan memanfaatkan sumber-sumber Alkitab, literatur teologi, dan berbagai publikasi ilmiah yang relevan sebagai dasar analisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembaruan budi sebagaimana diajarkan dalam Roma 12:2 menjadi fondasi utama bagi terjadinya perubahan perilaku, pola pikir, dan tanggung jawab pelayanan seorang pelayan Tuhan. Transformasi tersebut diwujudkan melalui kehidupan yang mengedepankan kasih, kejujuran, integritas, kepedulian sosial, serta kesetiaan terhadap firman Tuhan. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang menjadi ciri Era Society 5.0, lulusan pendidikan teologi dituntut mampu mengembangkan pelayanan yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat tanpa mengurangi komitmen terhadap prinsip-prinsip iman Kristen. Dengan demikian, pendidikan teologi di STT GMI Bandar Baru diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menunjukkan kematangan spiritual, karakter Kristus, kemampuan kepemimpinan yang melayani, serta kesiapan menjadi agen transformasi yang membawa dampak positif bagi gereja dan masyarakat.



