RESTORASI NIR-ETIK LINGKUNGAN SEBAGAI MORALITAS KRISTIANI

Penulis

  • Brian Aston Gea IAKN Tarutung

Kata Kunci:

Krisis ekologis, Imago Dei, Moralitas ekologis, Pentahelix, Restorasi nir-etik, Ecosophy

Abstrak

Krisis ekologis global yang semakin nyata menuntut refleksi teologis mendalam atas perilaku manusia yang eksploitatif terhadap ciptaan. John Hart menegaskan bahwa umat manusia telah melangkah jauh menuju kepunahan akibat kerusakan lingkungan, sehingga literasi ekologis bukan lagi sebatas wacana konseptual, melainkan fakta yang diakui hampir seluruh ahli. Dalam perspektif teologi Kristen, kondisi lingkungan sebagai ciptaan Allah menjadi pusat diskusi iman yang menuntun manusia untuk memikul tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Kritik Lynn White Jr terhadap antroposentrisme dalam pengajaran Kristen memperlihatkan akar perilaku nir-etik terhadap alam, namun mandat Allah dalam Kejadian 1:26-28 dan Amanat Agung menegaskan peran manusia sebagai imago Dei untuk memelihara ciptaan, bukan mendominasi. Gereja sebagai komunitas iman memiliki peran strategis dalam membentuk moralitas ekologis melalui pendidikan, liturgi, dan kolaborasi dengan komponen pentahelix (pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media). Restorasi nir-etik lingkungan diwujudkan melalui langkah konkret seperti reboisasi, daur ulang, pemanfaatan kembali, kerja sama kolektif, dan penghematan energi, yang sekaligus menjadi gerakan spiritual dan sosial. Paradigma ecosophy menegaskan bahwa manusia bukan pusat kehidupan, melainkan bagian dari ciptaan yang berelasi dengan Allah sebagai pusat kehidupan. Dengan demikian, keterlibatan Gereja dalam membangun moralitas ekologis umat merupakan langkah fundamental untuk mencegah penderitaan global dan mewujudkan persekutuan harmonis antara manusia, alam, dan Allah.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-10

Terbitan

Bagian

Teologi Anugerah