MENGINJILI TANPA MENGHILANGKAN BUDAYA: TEOLOGI KASIH DAN HARMONI DALAM DALIHAN NA TOLU
Kata Kunci:
teologi kasih,, inkulturasi injil, dalihan na tolu, budaya batakAbstrak
Artikel ini membahas misi gereja dan inkulturasi Injil melalui falsafah Batak Toba, Dalihan Na Tolu. Istilah misi berasal dari Latin mittere dan terkait perintah Yesus (Matius 28:19–20; Yohanes 20:21; Kisah 1:8) untuk memberitakan Injil kepada semua manusia. Inkulturasi dipahami sebagai proses memasukkan Injil ke dalam kultur lokal tanpa menghilangkan esensi iman, sehingga dialog antara iman dan budaya menjadi penting. Dalihan Na Tolu—somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru—merepresentasikan penghormatan, persaudaraan, dan pelayanan yang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani seperti kasih, persatuan, dan pelayanan. Artikel menelaah acuan teologis, termasuk refleksi terhadap Tritunggal, prinsip Paulus (1 Korintus 9:22), serta pandangan Jacques Dupuis dan ensiklik Redemptoris Missio yang menekankan penghormatan terhadap identitas budaya dalam tugas misi. Praktik inkulturasi dijabarkan melalui penghormatan kepada hula-hula, kerjasama dongan tubu, dan pelayanan boru, yang memungkinkan pelestarian identitas budaya sekaligus penerimaan Injil. Tantangan yang dihadapi meliputi modernisasi, urbanisasi, dan risiko sinkretisme. Untuk mempertahankan relevansi, gereja disarankan mengimplementasikan pendidikan kontekstual, adaptasi tradisi dalam ibadah, dan pemanfaatan teknologi. Kesimpulannya, Dalihan Na Tolu dapat menjadi alat efektif bagi misi inkulturasi bila seimbang antara penghormatan budaya dan kemurnian doktrin. Pendekatan dialogis ini menuntut pelatihan misionaris, keterlibatan komunitas lokal, dan evaluasi berkelanjutan agar praktik inkulturasi menghasilkan kehidupan rohani yang autentik dan berkelanjutan. Serta menghormati nilai-nilai generasi mendatang bersama-sama.



