STRATEGI PEMASARAN KUBIS (Brassica oleraceae L)

(Studi Kasus : Desa Bosi Sinombah, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara)

Penulis

  • Helena Tatcher Pakpahan Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
  • Ragnar Oktavianus Sitorus Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Methodist Indonesia, Medan
  • Leina Elsiwani Manurung Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Methodist Indonesia, Medan

DOI:

https://doi.org/10.46880/mtg.v12i1.6031

Kata Kunci:

Kubis, Strategi, SWOT, Agribisnis

Abstrak

Tanaman hortikultura memiliki prospek pemasaran yang baik dan nilai profitabilitas yang tinggi Permasalahan pemasaran yang dihadapi antara lain fluktuasi harga di tingkat petani, perbedaan keuntungan pada setiap lembaga pemasaran, serta ketergantungan petani terhadap pedagang perantara atau tengkulak yang menyebabkan posisi tawar petani menjadi relatif lemah dalam menentukan harga jual produk. Kondisi tersebut menyebabkan petani sering kali berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam sistem pemasaran. Penelitian ini dengan judul “Strategi Pemasaran Kubis (Brassica oleracea L.) (Studi Kasus: Desa Bosi Sinombah, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara)”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemasaran kubis (Brassica oleraceae L.) di Desa Bosi Sinombah, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun. Penelitian menggunakan metode survei dengan data primer dan sekunder yang dianalisis secara deskriptif dan SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal pemasaran kubis. Metode Penentuan Daerah Penelitian dilakukan secara purposive di Desa Bosi Sinombah, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun sebagai sentra produksi kubis. Metode Pengambilan Sampel Sampel diambil menggunakan metode simple random sampling terhadap petani kubis dan pedagang perantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran kubis memiliki kekuatan berupa pengalaman petani dan kualitas produk yang baik, namun masih memiliki kelemahan seperti ketergantungan terhadap tengkulak. Peluang didukung oleh tingginya permintaan pasar, sedangkan ancaman berasal dari fluktuasi harga dan persaingan. Hasil analisis SWOT menunjukkan nilai IFAS dan EFAS berada di atas 2,5 sehingga berada pada Kuadran I dengan strategi agresif (growth oriented strategy). Strategi yang dapat diterapkan adalah memanfaatkan kekuatan untuk menangkap peluang pasar guna meningkatkan efisiensi pemasaran dan pendapatan petani.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30