https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/issue/feedJurnal METHODAGRO2026-02-17T19:35:29+07:00Open Journal Systems<p>Majalah ilmiah Methodagro adalah majalah Ilmiah Fakultas Pertanian Universitas Methodist Indonesia yang menyajikan artikel ilmiah dari hasil penelitian maupun studi Pustaka. Majalah ilmiah ini juga sekaligus sebagai wahana bagi disseminasi hasil penelitian maupun komunikasi ilmiah diantara dosen dan peneliti di lingkungan Universitas maupun Lembaga penelitian lain yang ingin menyumbangkan karya ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Methodagro terbit per semester.</p>https://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/article/view/5148RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK KCL DAN PUPUK KANDANG AYAM2026-02-17T14:52:57+07:00Pantas Simanjuntaksimanjuntak.pantas@gmail.comLince Romauli Panatarialince.panataria@gmail.comEfbertias Sitorusefbertias.sitorus35@gmail.comMeylin Kristina Saragihmeylinkristina_saragih@yahoo.comAgnes Imelda Manurungsimanjuntak.pantas@gmail.com<p>Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (<em>Allium ascalonicum </em>L.) terhadap pengaruh pemberian pupuk KCl dan pupuk kandang ayam. Penelitian ini adalah menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah pemberian pupuk KCl (K) 4 taraf yaitu : K0 = Kontrol, K1 = 30 gram/plot (setara 75kg/Ha), K2 = 40 gram/plot (setara 100kg/Ha) dan K3 = 60 gram/plot (setara 150kg/Ha). Faktor kedua adalah pemberian pupuk kandang ayam (A) yang terdiri dari 3 taraf yaitu : A1 = 4 kg/plot (setara 10 ton/Ha), A2 = 6 kg/plot (setara 15 ton/Ha) dan A3 = 8 kg/plot (setara 20 ton/Ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk KCl berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi per plot, bobot basah umbi per tanaman, bobot basah umbi per pot dan bobot kering umbi per tanaman, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot kering umbi per plot. Pemberian pupuk kandang ayam berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi per plot, bobot basah umbi per tanaman, bobot basah umbi per pot, bobot kering umbi per tanaman dan bobot kering umbi per plot, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Interaksi antara pupuk KCl dan pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi per tanaman, jumlah umbi per plot, bobot basah umbi per tanaman, bobot basah umbi per pot, bobot kering umbi per tanaman dan bobot kering umbi per plot.</p> <p> </p>2025-12-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Pantas Simanjuntak, Lince Romauli Panataria, Efbertias Sitorus, Meylin Kristina Saragih, Agnes Imelda Manurunghttps://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/article/view/5081RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) TERHADAP WAKTU PEMBUMBUNAN DAN DOSIS PUPUK SP-362026-02-11T14:24:36+07:00Meylin Kristina Saragihmeylinkristina_saragih@yahoo.comParsaoran Sihombingsaor24des@gmail.comIrvan Rokana Manikmeylinkristina_saragih@yahoo.comLince Romauli Panatarialince.panataria@gmail.comEfbertias Sitorusefbertias.sitorus35@gmail.comAgnes Imelda Manurungmeylinkristina_saragih@yahoo.com<p>Penelitian ini mengkaji respon pertumbuhan dan produksi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) var. Gajah terhadap waktu pembumbunan dan dosis pupuk SP-36. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor, yaitu waktu pembumbunan (25, 35, 45 HST) dan dosis pupuk SP-36 (100, 125, 150 kg/ha), masing-masing tiga taraf dan tiga ulangan. Penelitian dilakukan di Medan (32 mdpl) pada Maret-Mei 2025, dengan lahan diolah hingga gembur, benih didisinfeksi, tanam tugal (30x35 cm), pemupukan dasar SP-36 pada 14 HST, pembumbunan berulang setiap 10 hari, serta pemeliharaan intensif hingga panen 90 HST. Parameter meliputi tinggi tanaman (3-5 MST), jumlah cabang, umur berbunga, jumlah ginofor, bobot polong basah/kering, dan bobot 100 biji kering; dianalisis sidik ragam dan BNJ 5%. Hasil menunjukkan waktu pembumbunan optimal pada 25 HST meningkatkan tinggi tanaman, cabang, dan ginofor signifikan dibanding 45 HST, sementara dosis 150 kg/ha SP-36 menghasilkan bobot polong kering tertinggi (hingga 20% lebih baik). Interaksi P1S3 paling unggul pada produksi. Kesimpulan: Kombinasi pembumbunan awal dan dosis tinggi SP-36 direkomendasikan untuk produktivitas maksimal di lahan tropis Medan.</p>2025-12-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Meylin Kristina Saragih, Parsaoran Sihombing, Irvan Rokana Manik, Lince Romauli Panataria, Efbertias Sitorus, Agnes Imelda Manurunghttps://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/article/view/5079PENGARUH APLIKASI PUPUK UREA DAN FREKUENSI PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis Guineensis Jacq.) PADA TAHAP PRE-NURSERY2026-02-11T13:46:40+07:00Michael Romulus Sitinjakdapejel.rait@yahoo.comBilter Siraitdapejel.rait@yahoo.comNaro Pasaribudapejel.rait@yahoo.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi pupuk urea dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) pada tahap pra-pembibitan. Percobaan dilakukan dari Mei hingga September 2025 di Medan Tuntungan, Sumatera Utara, menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor: Pupuk Urea (U₀ = tanpa urea, U₁ = 1 g L⁻¹, dan U₂ = 2 g L⁻¹) dan Frekuensi Penyiraman (A₁ = sekali setiap tiga hari, A₂ = sekali setiap dua hari, dan A₃ = sekali sehari). Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, dan luas daun. Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) diikuti dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk urea secara signifikan meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, dan luas daun, sedangkan frekuensi penyiraman berpengaruh signifikan terhadap semua parameter vegetatif, dengan pertumbuhan terbaik diamati pada penyiraman setiap hari. Interaksi antara konsentrasi urea dan frekuensi penyiraman tidak signifikan. Secara keseluruhan, kombinasi pasokan nitrogen yang memadai dan ketersediaan air yang konsisten mendorong perkembangan vegetatif optimal bibit kelapa sawit pada tahap pra-pembibitan.</p>2025-12-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Michael Romulus Sitinjak, Bilter Sirait, Naro Pasaribuhttps://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/article/view/5150PEMATAHAN DORMANSI BENIH TELANG (Clitoria ternatea L.) MENGGUNAKAN SUHU DAN LAMA PERENDAMAN YANG BERBEDA2026-02-17T19:35:29+07:00Lince Romauli Panatarialince.panataria@gmail.comMeylin Kristina Saragihmeylinkristina_saragih@yahoo.comPantas Simanjuntaksimanjuntak.pantas@gmail.comAgnes Imelda Manurunglince.panataria@gmail.comEfbertias Sitorusefbertias.sitorus35@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama perendaman terhadap pematahan dormansi benih telang (<em>Clitoria ternatea</em> L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Penelitan ini menggunakan 2 faktor. Faktor pertama adalah suhu air panas yang terdiri dari 4 taraf yaitu : S<sub>1</sub>= 0 °C, S<sub>2 </sub>= 40°C, S<sub>3 </sub>= 60°C dan S<sub>4</sub>= 80°C. Faktor kedua adalah lama perendaman (P) yang terdiri dari 3 taraf yaitu: L<sub>1 </sub>= 0 menit, L<sub>2 </sub>= 15 menit dan L<sub>3 </sub>= 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu air panas berpengaruh nyata terhadap daya kecambah benih, potensi tumbuh maksimum benih, indeks vigor benih, indeks kecepatan berkecambah benih dan lama perkecambahan benih. Lama perendaman berpengaruh nyata terhadap daya kecambah benih, potensi tumbuh maksimum benih, indeks vigor benih, indeks kecepatan berkecambah benih dan lama perkecambahan benih. Interaksi suhu air panas dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap daya kecambah, potensi tumbuh maksimum, indeks vigor dan indeks kecepatan berkecambah, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap lama perkecambahan.</p>2025-12-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Lince Romauli Panataria, Meylin Kristina Saragih, Pantas Simanjuntak, Agnes Imelda Manurung, Efbertias Sitorushttps://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/article/view/5133ANALISIS SEKTOR BASIS TANAMAN PERKEBUNAN DI MASING-MASING KECAMATAN KABUPATEN LANGKAT2026-02-14T13:59:29+07:00Aditia Erick Cantona Simatupangadityaerick8@gmail.comJones T. Simatupangjones.7matupang@gmail.comBEL Tobingadityaerick8@gmail.comRagnar Oktavianus Sitorusrock.sitorus@gmail.comAndre Siahaanadityaerick8@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komoditi tanaman perkebunan apa saja yang menjadi basis pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Langkat, untuk mengetahui komoditi tanaman perkebunan basis apa saja yang menjadi pertumbuhan cepat dan berdaya saing yang baik pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Langkat, untuk mengetahui komoditi tanaman perkebunan basis apa saja yang diprioritaskan untuk dikembangkan pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Langkat. Data yang digunakan adalah data sekunder. Analisis data yang digunakan yaitu analisis <em>Location Quotien, </em>analisis <em>Shift Share, </em>serta gabungan analisis <em>Location Quotient </em>dan <em>Shift Share. </em>Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditi tanaman perkebunan yang menjadi basis di Kabupaten Langkat yaitu karet, kelapa sawit, kakao, kelapa, pinang, kemiri dan aren. Komoditi tanaman perkebunan basis yang mempunyai pertumbuhan cepat di Kabupaten Langkat yaitu kelapa sawit dan kelapa. Komoditi tanaman perkebunan basis yang memiliki daya saing di Kabupaten Langkat yaitu karet, kelapa sawit, kakao, kelapa dan aren. Komoditi tanaman perkebunan basis yang menjadi prioritas utama di Kabupaten Langkat yaitu kelapa sawit, prioritas kedua yaitu karet, kakao, kelapa, pinang dan aren. Prioritas ketiga yaitu kemiri.</p> <p> </p>2026-02-17T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Aditia Erick Cantona Simatupang, Jones T. Simatupang, BEL Tobing, Andre Siahaanhttps://ejurnal.methodist.ac.id/index.php/methodagro/article/view/5080PENGARUH PEMANGKASAN DAN PEMBERIAN POC NANAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.)2026-02-11T13:57:57+07:00Pahala L.L Sianturisianturipahalas@gmail.comMarlon Andrio Maniksianturipahalas@gmail.comParsaoran Sihombingsaor24des@gmail.comSri Pratiwi Aritonangpratiwiaritonang@gmail.comEbsan Marihot Sianiparebsansianipar@methodist.ac.id<p>Pengaruh Pemangkasan dan Pemberian POC Nanas terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.). Penelitian ini dilaksanakan Jl. Bunga Herba IV. Penelitian dimulai dari 24 Februari sampai dengan 4 Mei 2025. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah pemangkasan dengan 2 taraf, yakni: P0 = Tanpa pemangkasan (kontrol) dan P1= 21 HST. Faktor kedua adalah pemberian Pupuk Organik Cair Nanas dengan 4 taraf, yakni: N0= Tanpa perlakuan (kontrol), N1= 20 ml/liter air, N2= 40 ml/liter air dan N3= 60 ml/liter air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman mentimun, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, umur berbunga, jumlah buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot. Perlakuan pemberian POC Nanas berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman mentimun dan bobot buah per plot, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, umur berbunga, jumlah buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, bobot per buah dan bobot buah per tanaman. Interaksi pemangkasan dan pemberian POC berpengaruh tidak nyata terhadap panjang tanaman, jumlah daun, umur berbunga, jumlah buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot.</p>2025-12-30T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 Pahala L.L Sianturi, Marlon Andrio Manik, Parsaoran Sihombing, Sri Pratiwi Aritonang, Ebsan Marihot Sianipar